Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,
Dan shalawat serta salam atas Nabi Muhammad
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Yang saya hormati para pembaca semuanya,
Perkenalkan, nama saya Nanda Eka Perkasa Pane dan anda sedang berada di ruang kerja digital saya. Apa yang sedang saya kerjakan di sini adalah penulisan sebuah buku yang saya harapkan dapat selesai dalam waktu 30 tahun, yang direncanakan terdiri atas 10 jilid dan diterbitkan setiap 3 tahun sekali (1 jilid setiap 3 tahun).
Mungkin anda bertanya-tanya, mengapa diperlukan waktu sebegitu lamanya untuk menulis sebuah buku? Jawabannya adalah karena:
Pokok bahasannya banyak dan luas.
Pokok bahasan ini dapat anda lihat di bagian “Halaman Utama\Proyek Penulisan 94 Kitab dalam 30 Tahun\4. Kerangka Buku “Kita Hidup, Kita Mati, Kita Dibangkitkan Kembali, dan yang Membinasakan Kita Bukanlah Masa””.
Buku ini ditulis berdasarkan hasil riset.
Sehingga buku ini bukan berisi kumpulan quotes, atau kata-kata bijak, atau sekedar retorika yang diperindah dan diulang-ulang.
Metode risetnya sangat ketat dan cukup rumit untuk diaplikasikan secara menyeluruh.
Metode risetnya secara garis besar dapat anda baca di bagian “**Halaman Utama\Proyek Penulisan 94 Kitab dalam 30 Tahun\→Bagian 3, Metode Penelitian**”.
Metode riset itu diambil dari tulisan kami dengan judul file “Materi Dasar”, yang dapat diakses melalui “Halaman Utama→Arsip Karya\Portofolio dan Wakaf dalam Bidang Keilmuan”.
Pada dasarnya metode riset ini adalah gabungan dari metode-metode para ulama dalam mempelajari Al-Qur`an dan Sunnah Nabi Muhammad, baik itu para ulama klasik maupun kontemporer. Hanya saja saya pribadi menyusun ulang hierarkinya dengan cara yang kami lampirkan di sana. Oleh sebab itu, hasil riset ini tidak keluar dari pengajaran para ulama, karena saya secara praktis hanya menyusun ulang hierarki metodenya saja dan bukannya prinsip-prinsip dasar metode itu.
Buku ini bukan “karya” AI.
Jujur saja, saya pribadi merasa cukup “muak” dengan banyaknya karya AI yang bertebaran di sosial media. Apabila anda sering berinteraksi dengan AI, maka anda akan hapal kosa kata dan gaya bahasa mereka. Walaupun seseorang itu memerintahkan AI untuk mengikuti gaya bahasanya, tapi identitas AI itu masih tetap terasa di dalam bahasa yang mereka gunakan. Hal ini menimbulkan “polusi kecerdasan/polusi kebijaksanaan”, dan semakin menghilangkan orisinalitas karya manusia. Mungkin saja di masa depan nanti, umat manusia akan berubah gaya bahasanya menjadi seragam dengan gaya bahasa AI. Jujur saja, saya pribadi sudah melihat amat sangat banyak konten kreator di sosial media yang gaya bahasanya sudah sangat AI.
Banyak sekali informasi-informasi di sosial media yang “terlihat” cerdas dan “terlihat” bijaksana, padahal sebenarnya hanya memamerkan istilah-istilah ilmiah dan keren, tetapi isinya jauh dari definisi “cerdas” ataupun “bijaksana”. Buku ini, Insya Allah tidak akan menjadi seperti itu.
Dan hendaknya anda jangan salah paham, bukan berarti saya pribadi anti teknologi dan tidak menggunakan AI sama sekali. Bahkan ide untuk launching Proyek 94Kitab™ ini juga berasal dari AI. Ya, saya juga menggunakan AI sebagai asisten untuk mengerjakan buku ini, tetapi bukan sebagai pembuat konsep maupun penulis naskah, melainkan sebagai pencari referensi dan juga sebagai “sparring” partner.
Misalnya, beberapa bulan yang lalu (terhitung dari kalimat ini saya tuliskan), saat sedang menuliskan pembahasan tertentu dalam buku ini, saya ingin memasukkan sebuah hadits yang pernah saya dengar tetapi saya tidak tau hadits itu ada di kitab mana. Search engine tidak bisa menemukannya. Maka saya meminta AI untuk mencarinya. Dan ternyata hadits yang saya ingat itu, saya mengingat redaksinya secara terbalik (karena saya lemah dalam hapalan), itulah sebabnya search engine tidak dapat menemukannya, tetapi AI bisa menemukannya (karena search engine mencari sesuai susunan teks, sementara AI mencari sesuai konteks dari teks, sehingga search engine sensitif terhadap redaksi yang tidak serupa sementara AI tidak demikian). Atau saat saya ingin membandingkan dua kata atau lebih di dalam Al-Qur`an atau Sunnah. Atau saat saya ingin mencari ada berapa kata dalam Bahasa Arab yang menggambarkan satu kata tertentu dalam Bahasa Indonesia. Dan setelah melakukan itu semua, saya masih melakukan cross check secara manual, baik itu dengan buku-buku versi cetak maupun dengan rekan-rekan saya yang memiliki spesialisasi keahlian di bidang itu (misalnya bidang Sastra Arab atau bidang hadits). Jadi, hanya dalam tugas-tugas seperti inilah saya menggunakan AI.
Keempat hal inilah yang menyebabkan pengerjaan risetnya membutuhkan waktu yang cukup lama (yaitu sekitar 30-an tahun seperti yang disampaikan sebelumnya).
Kemudian, di ruang kerja digital saya ini, anda juga dapat ikut memantau setiap perkembangan riset dan penulisan buku ini. Tentu saja yang saya maksud dengan ikut memantau bukanlah “mengintip” hasil risetnya, melainkan anda boleh ikut membaca kegiatan riset yang saya lakukan. Misalnya, tentang bagian apa yang saya teliti hari ini, apa tantangan yang saya hadapi, bagaimana cara saya menyelesaikan tantangan itu, apa yang saya pelajari selama seminggu ini, dan sejauh apa saya sudah melangkah selama sebulan. Insya Allah hal ini akan menjadi pengalaman yang unik buat kita semua.